Oberammergau, kota yang memenuhi janjinya selama 300 tahun lebih!

Sejak SMP saya selalu ingin pergi ke Oberammergau karena mendengar cerita guru saya mengenai kota kecil di Jerman ini.

Di tahun 1633 Oberammergau dilanda wabah dengan banyak korban meninggal. Warga berdoa supaya wabah berhenti dan bila ini dikabulkan maka mereka akan mementaskan kisah sengsara Yesus. Wabah pun hilang dan tahun 1634 mereka mulai mementaskan kisah sengsara Yesus. Sejak 1680 kisah sengsara ini mulai dipentaskan setiap 10 tahun di tahun yang berakhir dengan ‘0’ kecuali tahun 2020 karena adanya Covid, pementasan diundur ke tahun 2022….

Pementasan ini tidak main-main, 2000 warga terlibat dalam pementasan ini dan hanya warga Oberammergau yang sudah menjadi penduduk selama 20 tahun boleh berpartisipasi. 1 tahun sebelumnya nama-nama pemeran diumumkan dan mereka mulai menumbuhkan rambut dan jenggot untuk pementasan di tahun berikutnya. Pasti seru kalau datang ke Oberammergau 6 bulan sebelum pementasan.

Pementasan berlangsung selama 5 jam, dengan break di tengah dan diadakan 5 hari seminggu dari Mei sampai Oktober.

Saya ke Oberammergau di tahun 2016, tidak ada pementasan, tapi tidak apa-apa. Melihat dan menginap di kota ini saja sudah senang bukan main.

Kami tinggal di hotel Dedlerhaus karena hotelnya cute dan dekat ke mana-mana dengan jalan kaki. Pemiliknya bapak ibu usia 60an dan mereka yang mengurus sendiri hotel tersebut, mulai dari mengganti seprei sampai menyiapkan makan pagi. Kamarnya terang dan bersih, makan paginya enak. Makan pagi ini typical makan pagi di Jerman, roti dan cold cuts (ham, smoked salmon, telur, selai, keju, acar dll), karena saya suka makanan seperti ini, jadi enak-enak saja. Si bapak juga punya toko patung-patung pahatan kayu di lantai 1 Dedlerhaus, bagus-bagus tapi ehm…..mahal. Akhirnya kami cuma lihat-lihat saja.

Di beberapa review di website untuk booking hotel, komentar mengenai Dedlerhaus adalah bapak dan ibu yang punya Dedlerhaus ini kurang ramah. Si bapak ini memang jarang sekali senyum atau ngobrol dengan tamu, tapi mungkin cuma karena sangat introvert atau pemalu saja. Begitu selesai sediakan makan pagi dan kopi-teh, dia hanya bilang ‘Good morning’ terus kabur ke dapur. Kalau saya sih, kalau datang ke Oberammergau lagi, saya akan menginap di Dedlerhaus lagi.

Dedlerhaus, di sisi kanan toko patung-patung kayu punya si bapak

Bagian samping Dedlerhaus

Di seberang Dedlerhaus ada gereja. Kalau pagi kami dibangunkan dengan suara lonceng gereja ini….

Setelah check in, kami keliling-keliling kota untuk lihat-lihat dan cari makan. Ini kota memang cantik!!

Sepi sekali ya….

Toko patung kayu

Toko baju.

Karena cuaca bagus, orang ramai makan di luar…..

Kami makan di salah satu restoran di dekat pusat kota

Menu

Obatzda, keju khas Bavaria. Dibuat dengan mencampur keju, mentega dan bumbu-bumbu, jadi teksturnya lunak. Dimakan dengan roti.

Sup goulasch dan acar timun

Sayur kol merah

Yang ini apa ya?

Besoknya bangun pagi-pagi, untuk jalan-jalan lihat area di sekitar kota

Bayangkan kalau tinggal di sini dan lihat pemandangan gunung di belakang setiap hari! Waduuuuh….

Balkon-balkon di Eropa selalu cantik kalau musim panas…

Sayangnya cuma menginap 1 malam di Oberammergau. Kalau menginap 2-3 malampun kayaknya gak bosan. Sebelum pulang, beli souvenir dulu. Karena pahatan kayu yang besar mahalnya bukan main, jadi beli pahatan kecil saja (5 cm) :

Patung Yosep, Maria dan Yesus.

Dan ini permen yang ada di bantal di Dedlerhaus ‘Bedtime Sweets’. Tulisan di bawahnya dalam bahasa Jerman, artinya ‘Kodok rasa buah untuk mimpi yang manis’. Oh…so sweeeet! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: