Ke luar kota saat pandemi

Sejak pandemi zombie ini saya tidak pernah ke luar kota, baik business trip maupun liburan, jadi sudah hampir 8 bulan tidak menginjakkan kaki di airport. Maklum HR di kantor sangat strict. Perjalanan ke luar kota yang tidak esensial tidak boleh dilakukan, semua meeting harus online, kalaupun HARUS ke luar kota pulangnya harus isolasi mandiri dan baru boleh menginjakkan kaki di kantor lagi bila sudah PCR atau rapid test….

Tiba-tiba minggu lalu saya dan suami HARUS ke Surabaya. Seperti apa ya bepergian lagi saat pandemi?

Kami memutuskan pergi naik Air Asia dan pulang naik Citilink, karena katanya kedua maskapai ini melakukan distancing di pesawat sedangkan saya dengar Lion dan Batik Air pesawat terisi penuh. Rencananya menginap 1 malam di hotel Holiday Inn Express dan 1 malam lagi di hotel Four Points by Sheraton. Kenapa ganti hotel? Karena ingin kamar yang fresh setiap harinya….dengan strategi ini harusnya lebih bersih dibandingkan menginap di kamar yang sama dua hari berturut-turut… Untuk makan di Surabaya, kami rencana cuma akan makan di tempat makan outdoor.

Perjalanan pergi ke Surabaya

Sehari sebelum berangkat kami sudah rapid test dulu (di UGD Siloam MRCCC Hospitals, IDR 149 ribu, 20 menit jadi reportnya). Di airport report tersebut divalidasi. Dan ternyata prosesnya tidak makan waktu lama. Siapa ya yang bilang ke airport harus 5 jam sebelum pesawat berangkat? Kami datang 2.5 jam sebelum pesawat berangkat dan dalam 10 menit proses beres….

Terus terang saya merasa aman naik Air Asia :

1) Proses boarding tertib, diatur per row

2) Semua kursi tengah dikosongkan

3) Tidak ada penjualan makanan, jadi tidak ada yang buka masker untuk makan atau minum selama perjalanan 

4) Saat turun dari pesawat diatur bergiliran 3 row – 3 row dengan jeda 30 detik. Tidak boleh mengantri turun sambil berdiri di gang. Mula-mula row 1-3 diperbolehkan mengambil bagasi kabin dan  turun, setelah itu row 4-6 dipanggil untuk berdiri, mengambil bagasi dan turun. Begitu seterusnya..

5) Jumlah orang di bis yang mengantar dari pesawat ke terminal diatur. Saya sampai berpikir, kalau begini pengaturannya rasanya aman bepergian.

Terima kasih ya, Air Asia!

Hotel Holiday Inn Express

Protokolnya standard, pengecekan suhu sebelum masuk hotel dan ada hand sanitizer di lobby maupun depan lift.

Untuk makan siang kami langsung ke area outdoor restoran. Pesan Thai iced tea, Vietnamese coffee dan karena ini makan pertama di Surabaya, maka harus makan rawon!! Rawonnya enak….tapi tidak ada telur asin (maaf, tidak ada, bu….diganti telur rebus saja ya….), tidak ada togenya (maaf, tidak ada toge, bu…) dan kerupuknya bukan kerupuk udang. Mungkin karena saat pandemi begini tamu kurang jadi ada penghematan di bahan-bahan yang dibeli? Tapi gak papa, yang penting rawonnya enak.

Area makan outdoor, sebetulnya untuk para smoker…

Vietnamese coffee, Thai iced tea

Rawon….tanpa telur asin maupun toge

Breakfast besok paginya buffet di restoran di lobby. Saat pandemi begini buffet tidak boleh ambil makanan sendiri tapi petugas yang mengambilkan. Petugasnya satu, yang antri ada lima. Makanannya disendok sedikit-sedikit ke piring. Kan jadi gimana gitu….. Misalnya saya mau bihun goreng setengah piring tapi dia ambil ke piring sesendok-sesendok sambil tanya ‘Lagi, bu?’ Saya jadi harus bilang ‘Tambah lagi, tambah lagi….’ 5 kali sementara yang antri makin panjang. Hihi… Itu baru bihun goreng, setelah itu proses yang sama terjadi dengan capcay, lalu telur bumbu, lalu ayam goreng tepung. Lamaaaa prosesnya. Makanannya enak cuma saya gak berani ambil porsi kedua karena yang antri makin panjang…. Diet lah.

Four Points by Sheraton

Siangnya kami pindah hotel ke Four Points by Sheraton, di sebelah Tunjungan Plaza. Sebelum masuk cek suhu dan banyak hand sanitizer di mana-mana. Di kamar disediakan hand sanitizer dan 2 wipes. Sayangnya di Four Points tidak ada tempat makan outdoor, jadi kami naik Grab 5 menit ke Rawon Setan….sekalian menghibur diri karena rawon yang kemarin pelengkapnya kurang komplit….

Rawon Setan

Nah, ini foto-foto di Rawon Setan. Kami duduk di kursi di luar, jadi aman. Pesan rawon dan bebek adus kali. Dilengkapi dengan telur asin dan toge. Ada juga tempe, paru, perkedel dan limpa. Setelah makan tempe dan paru kita trus mikir….itu kan sebetulnya tidak higienis ya…makanan tersebut sudah dihidangkan ke pengunjung lain sebelumnya. Ah, sudahlah… sudah terlambat.

Rawon Setan, buka 24 jam

Bebek adus kali, bebek bumbu kuning yang enak tapi kurang pedas

Side dishes

Four Points by Sheraton (lagi)

Di Four Points di keycard, di lift, di kamar selalu disebutkan bahwa mereka punya craft beer yang patut dicoba. Wah, boleh juga. Malamnya dengan semangat kami ke bar. Dalam bayangan kami ini akan seperti di Galmegi di Busan dengan banyak pilihan bir (lihat saja gambar di keycard). Ternyata….yang dimaksud craft beer itu beer on tap dan cuma ada bir Bintang. What?? Pilihan lainnya standard-standard saja…bir yang bisa dibeli di supermarket (Heineken, Carlsberg, Radler…). Kenapa heboh sekali iklannya ya kalau cuma bir Bintang….

Gambar di keycard….bikin ekspektasi tinggi….

Makan pagi buffet di Four Points boleh ambil sendiri, tidak diambilkan petugas…tapi semua tamu harus pakai sarung tangan yang memang disediakan.

Makanannya masih sama banyak jenisnya seperti sebelum pandemi. Ruang breakfast cukup penuh dan tidak ada pilihan duduk outdoor. Jadi kami makan seperlunya dan buru-buru kabur.

Selesai makan, kami check out. Keycard yang saya kembalikan langsung direndam cairan disinfektan.

Di Four Points ada pembatasan kapasitas lift, hal yang standard sekarang. Di depan lift tertulis ‘Maksimum 4 orang atau satu keluarga’. Saat itu sudah ada tiga orang di lift, mau turun dari lobby lantai L ke lobby lantai M. Tiba-tiba masuk satu tamu diikuti satu wanita petugas front office membawakan koper tamu tersebut. Sekedar mengetest kedisiplinan petugas tersebut, saya bilang ‘Mbak, kapasitas liftnya 4 orang lho’ tapi dia cuma tersenyum dan memaksa masuk lift. Yaaah. Lagian untuk apa dia bawakan koper tamu tersebut ya? Tamunya wanita masih muda dan sehat, kopernya kecil dan di lobby lantai M koper langsung dipindah tangan ke tamu tersebut dan kemudian dibawa sendiri (tadinya saya pikir jangan-jangan tamunya tidak bisa bawa koper sendiri karena alasan kesehatan). Kalau saya sih mendingan koper saya bawa sendiri daripada pegangan kopernya dipegang orang lain dan harus saya semprot sanitizer… Anyway….nice stay di Four Points kecuali test terakhir tersebut…

Perjalanan pulang ke Jakarta

Pesawat Citinlink yang harusnya jam 11.30 “dialihkan” ke jam 14.40. Mungkin penumpangnya tidak cukup sehingga digabung ke jam 14.40.

Sambil menunggu saya makan rawon (lagi!) di Gloria Jeans Coffee. Gloria Jeans cuma terima cash. Tidak terima debit card maupun aplikasi pembayaran non tunai. Hari gini masih pakai cash…..

Rawonnya enak, dan boleh minta tambahan toge. Saya jadi happy (Standard happy saya memang rendah 😊)

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya boarding pesawat Citilink. Kalau dibandingkan Air Asia

1) Proses boarding tidak diatur per row. Semua langsung berebutan masuk

2) Tidak semua kursi di tengah dikosongkan. Agak aneh karena ada barisan 3 kursi yang terisi semua, ada juga baris yang cuma terisi 1 kursi, ada yang dikosongkan sama sekali

3) Antrian toilet hanya boleh 1 orang tapi ada yang mengantri lebih dari 1 orang didiamkan saja. Dan di toilet ternyata air kerannya tidak ada. Waduuuh….bagaimana penumpang cuci tangan setelah menggunakan toilet ya? Mungkin pesawatnya didisinfeksi tapi kalau habis BAB tidak bisa cuci tangan sih…. waduuuh… geli juga membayangkannya.  Waktu saya informasikan ke awak kabin, mereka cuma bilang ‘Iya, maaf ya’

4) Ada pembagian minuman dan roti dalam boks, akibatnya ada yang buka masker untuk makan

5) Saat turun penumpang ‘dihimbau’ untuk turun sesuai row (10 row sekali turun). Tapi karena sifatnya himbauan akhirnya tetap saja berebutan turun dan penumpang juga tidak dilarang untuk berdiri mengambil bagasi kabin dan mengantri di lorong meskipun belum tiba gilirannya untuk turun….

Di CGK antrian cukup panjang untuk scan eHac (kartu kewaspadaan kesehatan)   Kalau mau menghemat waktu, download dulu aplikasinya (android) atau isi di websitenya ( https://inahac.kemkes.go.id/ ) sebelum mendarat. Saya sempat pusing karena HP saya kehabisan batere dan charger di terminal tidak ada yang berfungsi….untung ada iPad yang masih ada baterenya. Phew.

Semoga pandemi zombie apocalypse ini cepat berlalu dan semua bisa kembali normal, bisa jalan-jalan dan makan-makan lagi…. Untuk yang bekerja di hospitality dan travel industry, semangat yaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: